Dari Desa Terpencil Ke Jambore Nasional, SMPN 3 Satap Mangoli Selatan Ukir Sejarah Baru
L
Link Satu
-
Aug, 05 2026
Kepsek SMPN 3 Satap Mangoli Selatan Dan Muridnya Yang Terpilih Ikuti Jambore Nasional. Foto: Istimewa.

SULA — Sebuah kabar membanggakan datang dari Desa Auponhia, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula. Di tengah berbagai keterbatasan yang selama ini menjadi tantangan, SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan berhasil mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya sejak sekolah itu berdiri, dua siswanya terpilih sebagai peserta Jambore Nasional.

Prestasi tersebut bukan sekadar keberhasilan mengikuti kegiatan kepramukaan tingkat nasional, tetapi menjadi simbol bahwa anak-anak dari wilayah terpencil mampu bersaing dengan siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Di balik keberhasilan itu tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan. Berada jauh dari pusat kota dengan fasilitas yang terbatas, sekolah ini selama bertahun-tahun belum pernah menjadi unggulan dalam kegiatan kepramukaan. Namun, keterbatasan tidak pernah mematahkan semangat para guru dan siswa untuk terus berusaha.

Kepala SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan, Ulfa Kamaludin Umafagur, mengaku pencapaian tersebut menjadi momen paling berkesan sejak dirinya memimpin sekolah pada 2022.

“Saya tentu merasa sangat bangga dan bahagia. Ini adalah pengalaman pertama saya menjadi kepala sekolah, dan Alhamdulillah bisa melihat anak-anak didik kami berhasil bersaing hingga ke tingkat nasional. Bagi saya, ini adalah sejarah baru bagi sekolah,” ujarnya, Rabu (05/08/2026).

Baca juga: Cerita Seorang Pemuda Asal Sula Lulusan Arsitek, Pilih Jadi Tukang Pangkas Rambut

Menurut Ulfa, saat pertama kali bertugas, ia tidak pernah membayangkan sekolah yang dipimpinnya mampu mengirimkan peserta hingga ke Jambore Nasional. Kondisi sekolah saat itu masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari sisi sarana pembelajaran maupun fasilitas penunjang kegiatan ekstrakurikuler.

“Dengan kondisi sekolah yang serba terbatas, rasanya Jambore Nasional adalah sesuatu yang sangat jauh. Tetapi hari ini, sesuatu yang dulu tidak pernah terbayangkan itu benar-benar menjadi kenyataan,” katanya.

Baca juga: Cerita Rizkiwati, Seorang Tenaga Kesehatan Asal Pulau Seram Yang Bertugas Di Sula

Bagi Ulfa, keberhasilan dua siswanya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar lolos ke ajang nasional. Prestasi itu membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh letak geografis.

“Anak-anak Auponhia memiliki potensi besar. Mereka hanya membutuhkan ruang, pembinaan, dan kepercayaan untuk berkembang,” ungkapnya.

Baca juga: Cerita Hasbi, Seorang Eks Karyawan Tambang Yang Ikut Pelatihan Dari BLK Ternate

Meski demikian, perjalanan menuju prestasi tersebut bukan tanpa hambatan. Faktor geografis menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi sekolah setiap kali mengikuti kegiatan di tingkat daerah.

“Kami berada di wilayah yang sangat jauh dari kota. Setiap ada kegiatan, kami harus memikirkan biaya transportasi dan kebutuhan lainnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan, kami para guru harus patungan agar anak-anak bisa mengikuti kegiatan di tingkat daerah,” tuturnya.

Baca juga: Cerita Mahasiswa Unkhair Asal Sula Yang Kerap Kampanyekan Kebersihan Di Taman Wansosa

Namun, keterbatasan itu justru menjadi motivasi untuk terus bergerak. Sejak 2023, Ulfa mulai memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan kegiatan Pramuka setelah melihat antusiasme para siswa yang begitu tinggi.

Sekolah kemudian rutin menggelar latihan, perkemahan, serta pembinaan secara intensif. Tidak hanya itu, putra-putri Auponhia yang telah memiliki pengalaman di bidang kepramukaan turut dilibatkan untuk membimbing adik-adik mereka.

“Saya melihat semangat mereka luar biasa. Dari situ saya berpikir bahwa Pramuka harus menjadi wadah untuk mengembangkan potensi mereka. Setiap ada kegiatan tingkat daerah, kami selalu berusaha ikut,” katanya.

Baca juga: Cerita Seorang Nakes Di Sula Dapat Surat Sakti Dari Kadinkes Disaat Hamil Muda

Ulfa mengatakan, nilai utama yang terus ditanamkan kepada para siswa adalah keyakinan bahwa kerja keras akan selalu membuahkan hasil.

“Saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa kalau kita rajin berusaha, kita akan mendapatkan hasil terbaik pada waktu yang tepat. Yang terpenting adalah jangan pernah menyerah karena keterbatasan,” ujarnya.

Baca juga: Salah Satu Terdakwa Kasus Korupsi Di Maluku Utara, Ajukan Peninjauan Kembali

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh keluarga besar sekolah, pembina Pramuka, masyarakat, dan orang tua siswa.

“Kami sebagai guru hanya menjadi perantara dan pemberi ruang. Anak-anaklah yang berjuang. Karena itu saya berharap orang tua terus mendukung anak-anaknya dan jangan pernah meremehkan potensi mereka,” katanya.

Baca juga: Cerita Hasbi, Seorang Eks Karyawan Tambang Yang Ikut Pelatihan Dari BLK Ternate

Ke depan, Ulfa berharap pencapaian ini menjadi titik awal lahirnya lebih banyak prestasi dari sekolah-sekolah di wilayah kepulauan.

“Kami ingin membentuk generasi yang berakhlak mulia, terampil, dan mampu menghadapi berbagai situasi kehidupan. Jambore Nasional bukan tujuan akhir, tetapi awal dari keyakinan bahwa anak-anak dari desa terpencil juga mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional,” pungkasnya.

Baca juga: 29 Tahun Mengelilingi 25 Negara, ini Alasan Pria Asal Kanada Menetap di Kepulauan Sula

Keberhasilan SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan menjadi bukti bahwa prestasi tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap atau berada di pusat kota. Dari sebuah desa kecil di Auponhia, semangat, kerja keras, dan keyakinan telah mengantarkan dua putra daerah menembus panggung nasional sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Kepulauan Sula.

Pewarta: Setiawan Umamit

Redaktur: TIM

© 2023 Linksatu | All rights reserverd.